Bukan


Bukan, bukankah sudah saatnya untuk merubah status? Memang umur 20an keatas sudah jadi waktu-waktu yang rawan bagiku untuk menghadapi pertanyaan “kapan nikah?”,”mana pacarnya?”, atau pertanyaan-pertanyaan lain yang sejujurnya lebih mengarah ke-kepo-an. Entah karena ingin tahu orientasi seksual seseorang ataupun ingin memperlihatkan eksistensi mereka dalam urusan cinta asmara dan menempatkan seseorang yang masih-sedang-akan dengan status sendiri sebagai kasta yang paling hina dan tak berdaya.

Bukan, Bukan, menikah atau pacaran bukan hal yang segampang itu.

Bukan, bukan karena tidak mau menikah ataupun mau punya pacar. aku harus membuktikan kepada diri sendiri dulu. kalau aku siap jiwa raga menjadi seorang suami, seorang imam untuk dunia hingga akhirat. bekerja dengan baik, memahami agama lebih dalam, mempersiapkan masa depan, dan memantapkan finansial. kalau aku sudah mantap, aku akan Percaya diri dengan wanita. karena, suami yang terbaik tidak akan rela untuk membawa pasangan hidup serta anaknya dalam kesulitan hidup.

Bukan, bukan hanya mengandalkan janji manis, bukan permainan kata, bukan kepastian yang terlampau lama, bukan harapan imitasi. aku hanya ingin memberikan kepastian yang sebenarnya.menjamin tugasku sebagai suami yang sebenarnya, untuk kini dan masa depan nanti.

Bukan, bukan, menikah bukan sebagai  pilihan untuk saling mengisi, saling melengkapi. Semuanya akan tetap habis. Seperti matematika, jika kelebihan = 1, dan kekurangan = -1, jika dipadukan akan tetap 0. Kecuali dengan keadaan yang sama-sama kuat untuk membina hubungan. 1+1 = 2.

Bukan, menikah pun bukan sebatas menjalin hubungan cinta dan kasih sayang, tapi lebih, untuk saling percaya, bertanggung jawab dari dunia hingha akhirat. memindahkan cinta dan patuh seorang wanita dari kedua orang tuanya, kepada diriku.

Bukankah aku lelaki? dan lelaki akan diminta pertanggung jawaban dunia dan akhirat?  tentu, apa yang sudah dilakukan orang tuanya selama ini, merawatnya dengan baik dan berusaha dan bekerja keras agar anaknya tidak berkutat dengan kesusahan, haruslah menjadi kewajibanku sekarang, sebagai pengganti cinta baktinya.dan sebagai bukti dari kewajiban sebagai seorang suami.

Bukankah aku menjadi orang yang kejam dan egois, jika aku tidak memberikan apa yang orang tuanya sudah berikan dengan susah payah, lalu kemudian hanya meminta dia untuk menurut dengan kemauanku?

Bukan menjadi money oriented, bukan juga harus menjadi miliarder jika ingin menikah. tapi harus punya bekal, punya langkah kedepan, punya perencanaan.
Rencana untukku, rencana untuk keluarga, dan rencana untuk anak-anak.

Bukan mendahului, walaupun memang rencana manusia tidak akan selalu sama dengan rencana Tuhan, tentu Tuhan juga akan mengaminkan keinginan manusia yang terbaik, tentu dengan jalan terbaik yang diberikan oleh-Nya. Dan tidak menjadi sebuah kesalahaan atau celaan jika kata siap sudah menjadi suatu tujuan? Akan lebih baik jika berlayar mengarungi lautan dengan kapal yang kuat dan perbekalan yang cukup, dibandingkan dengan rakit yang lemah dan tanpa persiapan bertahan hidup?

APA HARUS CPNS ?


CPNS, akupun baru dekat dengan kata-kata itu sejak booming penerimaan CPNS di tahun 2017 yang sepertinya menjadi sebuah trending topic di antara kawula muda usia produktif di masa-masa semangatnya untu bekerja sesudah lulus ari pendidikan perguruan tinggi. Dengan ekspektasi bahwa menjadi seorang PNS  adalah pekerjaan yang sangat baik untuk masa depan, yang terjamin kesejahteraannya hingga hari tua.

Abdi Negara, Persepsiku sendiri, sudah menjadi streotipe dari profesiku sebagai dokter. Tidak perlu untuk menjadi seorang PNS, sehari-haripun waktu dan kehidupan saya sudah sangat lekat dengan pengabdian untuk menjadi seorang penolong dan pembangun kesejahteraan masyarakat. Apalagi  dengan citra PNS sekarang yang penuh dengan cap negatif.

Memang awalnya niatanku mengikuti tes CPNS  ini karena ada rasa penasaran di dalam hati, seperti apa sih soal tes CPNS yang katanya rumit, serta langkah perjalanan dalam pendaftarannya yang dalam selentingan isu harus membayar dan mempunyai hubungan khusus dengan petinggi-petinggi suatu daerah. Tentunya sebagai seseorang yang sangat menyukai tantangan dan penuh dengan rasa ingin tahu yang tinggi, aku pun mulai mengikuti pendaftaran CPNS.

Ibuku sempat menasehatiku agar tidak ikut tes karena beliau ingin aku tetap di rumah dan dekat orang tua, karena beliau sangat yakin dengan kemampuanku dan mengatakan bahwa aku pasti lulus dalam tes tersebut. Beliau tidak ingin harus tinggal berjauhan. Namun karena ayahku mengatakan kepada ibu bahwa kemungkinan untuk kemajuan karirku lebih besar, ibu pun akhirnya mengizinkan aku untuk ikut tes CPNS

Oh iya, sebelum mendaftar sebagai CPNS ini, aku sebelumnya sudah bekerja sebagai PTT di puskesmas gunung tabor, kabupaten berau. Yupz, puskesmas yang bahkan lima langkah pun sudah bisa saya datangi. Puskesmas di kampung kelahiran saya sendiri. Selain bekerja di puskesmas, saya pun memiliki praktek pribadi yang ramai dan juga memiliki sambilan  sebagai dokter perusahaan di salah satu kontraktor batubara di kabupaten berau. Bias dikatakan kehidupan saya sudah mapan dan memiliki rutinitas yang tidak terlalu menguras pikiran. Selain diimbangi dengan penghasilan yang sangat Alhamdulillah sekali, yang tentunya bagi sebagian  orang akan sangat saying sekali jika ditinggalkan dengan usaha yang aku rintis dari awal.

Namun, rasa penasaranku yang sangat menggebu-gebu disertai dengan tantangan yang dikatakan orang kalau menjadi PNS adalah hal yang sulit jika tidak ada bantuan “orang dalam”, membuatku memutuskan untuk mengikuti es CPNS ini. Selain karena melihat formasi yang ditawarkan, di RSUD Provinsi, yang menurutku memiliki prestise lebih.

Akhirnya di bulan September 2017, aku pun mencoba untuk menjawab tantangan itu. Dengan pengalaman yang baru pertama kali dan tidak pernah ikut tes serupa sebelumnya, aku pun maju dengan target nothing to lose, karena memang tidak ada hal yang lain yang saya pertaruhkan dalam percobaan ini. Lulus, Alhamdulillah. Tidak lulus puntidak masalah, karena kembali ke niatan awalku, karena aku sangat penasaran sekali. Kalau tidak mencoba, tentunya kita tak akan pernah tahu bagaimana proses dan hasilnya.

Masuk di proses penyerahan berkas pun, awalnya aku melihat di media social bagaimana antrian pendfatar yang sangat banyak sekali, bahkan harus antri dari jam 2 dini hari serta penyerahan berkas yang belum tertata dengan baik, sempat membuatku tidak ingin ikut mendaftar. Tapi pada saat bersamaan, bapak memintaku untuk menemani beliau ke Bulungan bersamaan, karena beliau ingin memeriksakan diri ke Dokter Spesialis Jantung, membuatku bergerak untuk sekaligus pergi untuk mendaftar.
Alhamdulillah, ternyata saat aku mendaftar, sangat dimudahkan sekali. Saat pagi mendaftar, aku bertemu dengan teman SMAku yang ternyata ikut mendaftar. Dia memberikan nomer antrian yang tidakterpakai karena dia mengambil 3 nomer sekaligus  saat panitia pendaftaran membagi nomor antrian. dan nomor antrian tersebut hanya perlu menunggu 15 menit dari saat saya datang.

Kemudian saat tes SKD dan SKB pun aku tak menemukan halangan berarti. Aku memang datang dengan prinsip awal yang ingin mencoba tantangan, tanpa ada persiapan untuk belajar banyak dan mencoba untuk mengandalkan pengetahuan umum yang aku dapatkan saat SD dan SMP. Karena saat mencoba simulasi tes yang disediakan oleh BKN, tipe soal yang saya lihat pun  kurang lebih soal pengetahuan kenegaraan dan logika piker.

Saat Tes SKD, aku mendapatkan poin yang lumayan tinggi, yakni 390. Harapan lulus yang tinggi jika melihat dari rekapan nilai SKD dengan peserta yang lain. Saat tes SKB pun, pertanyaan yang diajukan adalah semua pengalaman yang aku dapatkan saat bekerja di keseharian. Tidak ada kesulitan sama sekali bagi saya dalam menjawab soal-soal tersebut.

Setelah pengumuman hasil kelulusan, akupun masih bimbang untuk memutuskan ikut menyerahkan berkas atau tidak. Dalam waktu 1 bulan itu, pikiranku sangat terkacaukan dengan segala macam pertimbangan yang aku pikirkan untuk menilai apa saja kelebihan dan kekurangan yang akan aku alami nantinya saat mengambil keputusan untuk menjadi seorang CPNS atau tidak. Terlebih jika melihat pekerjaanku yang saat itu sudah terbilang mapan.akupun berdoa terus menerus dan sholat istikharah agar dberikan petunjuk yang terbaik untuk kupilih.  Selain itu Pertimbangan dari bapak kalau setidaknya dengan CPNS ini bisa menjadi jalanku untuk memraih cita-citaku menjadi seorang dokter spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitatif,akhirnya aku pun memantapkan diri untuk mengambil kesempatan yang sedang terbuka lebar di depan mata ini, walaupun mengorbakan beberapa hal yang lainnya.

Takdir, memang sudah menjadi jalan yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wataa’la, karna aku sendiri merasa perjalananku menuju PNS ini sendiri, sangat dimudahkan dan dilancarkan.  Menurutku, dari awal pendaftaran, hingga saya masuk kerja, tidak ada aral rintangan yang menghadang yang sekiranya membuatku merasa kesulitan dalam menjalani fase menjadi CPNS seperti sekarang ini. Semuanya mulus dan lancer. Dan bisikan-bisikan miring mengenai pendaftaran CPNS yang harus membayar sekian-sekian rupiah pun tidak pernah aku temukan. Setidaknya dengan dasar ini, aku bisa berusaha untukmenjadi seorang abdi Negara yang bermanfaat bagi masyarakat dan sebagai agen perubahan bagi Indonesia yang lebih baik.

2017, Tahunnya CPNS

Halo semua………..

2017 bener-bener udah jadi tahun yang paling vakum buat menulis. Hampir ga ada sama sekali tulisan yang gue post di tahun ini. Dan baru di pwnghujung tahun ini, gue sempetin buat nulis lagi. Paling gak sih, buat naikin traffic view di blog gue. Hahaa

Tapi emang bener sih, 2017 gue sibuk banget sama kegiatan-kegiatan yang sebenarnya ga bikin sibuk-sibuk amat. Cuma guenya aja yang emang lagi malas banget buat nulis dan curhat di blog ini. Tapi di pengujung tahun ini, gue baru sadar dan kangen, bahwa menulis emang udah jadi salah satu cara utama gue buat ngelepasin stress yang selama ini gue alamin karena ga dapat jatah liburan

Dan mungkin juga jadi bahan review buat gue sendiri tentang apa saja yang sudah gue alamin dan menjadi titik terpenting dalam hidup gue yang seenggaknya merubah jalan hidup gue. Haha. Sejujurnya sih, ga ada. Haha

Yang paling pasti sih, mungkin peristiwa di akhir desember ini. Dimana lagi heboh-hebohnya penerimaan CPNS 2017 di seluruh kementerian dan Lembaga di Indonesia, dan gue termasuk dari sekian ribu orang yang lolos untuk menjadi abdi Negara di Provinsi Kalimantan Utara, salah satu provinsi termuda di Indonesia. Haha


Ya, Cuma itu aja sih yang mungkin paling berkesan selama tahun 2017 bagi gue. Mungkin nanti bisa gue bagi pengalaman gue ikutan SELEKSI CPNS 2017 itu, yang mungkin bisa jadi referensi kamu buat ikutan SELEKSI CPNS 2018 yang katanya bakal diadain di seluruh daerah di Indonesia.

Curhatan Si Atopi

Atopi. Apaan tuh? Aa’ Topik? Pasti ini adalah salah satu kata asing yang jarang atau malah baru pertama kali kamu dengar. Apaan sih atopi itu? Makanan? Minuman? Cafe tongkrongan baru buadh anaqh gawulz nghitz beudh? Bukan, bukan itu semua. Atopi itu punya arti yang bisa kamus earch digoogle. Kan udah punya smartphone. Jangan gaptek deh. Malu sama hp yang harganya bisa buat DP 4 kredit motor. Hehe

from aufalactababy.wordpress.com



Ok, daripada kamu nutup page web gue demi nyari arti dari atopi, bakal langsung gue jelasin disini. Atopi itu gampangnya adalah alergi. Singkatnya orang yang punya riwayat gatel-gatel kalau lagi udara dingin, abis makan udang, atau orang yang gampang bersin atau sesak kalau kena debu, bisa dibilang, orang itu punya riwayat atopi.




sekarang udah paham ya, anak-anak, apa itu atopi? *paham pak!!!!*. bagus, sekarang bapak mau berbagi kisah kasih tentang orang yang harus hidup dengan si atopi ini. mau dengar ceritanya? *enggaaaakkk pak !!!*. oh OK, ya udah, selesai ya!

****** THE END ********


Eh, ga gitu ding, singkat amat ini ceritanya. Ga ada alur yang sampai klimaks, konflik-konflik yang menguras air mata. Ga mutu banget sih yang nulis ini. pasti blognya isinya asal-asalan juga deh. Ya udah, close aja.

Ya cukup deh muter-muternya. Daripada kamu kesel duluan, gue bakal serius seserius-seriusnya nulis ini. lebih pasnya sih, isinya curcol gue, sebagai seorang yang punya riwayat atopi, khususnya Rhinitis Alergi. Apalagi tuh? Jadi rhinitis itu seseorang yang bakal bersin-bersin kalau berada dalam suatu kondisi tertentu. Seperti misalnya cuaca yang dingin, udara kotor berdebu, atau jomblo bertahun tahun yang gak ada yang menghangatkan hati. Ok, yang terakhir gue bercanda.


from twimg.com
Yes, kamu jangan salah arti kalau rhinitis ini bersin-bersin biasa seperti orang yang lagi pilek. Salah. Salah besar. Karena penderitaanya 100 kali lebih nyesek dibanding Cuma pilek biasa. BERSIN yang bisa sampe 20 KALI gak berhenti (sumpah, ini pernah gue alami) sampai kamu pengen banget ngelepas itu hidung dari tempatnya. Dan yang paling gak enaknya adalah, keinginan buat bersin, tapi gak jadi. Suer deh, ini udah muka jelek tambah ancur gara-gara gak jadi bersin. Tau sendiri kan, mau seganteng atau secantik apapun mukanya orang, kalau yang namanya kepengen bersin terus gak ajdi, pasti deh jadi jelek banget. Kalau kamu pernah nemuin tuh si Nicholas Saputra yang katanya cool banget, kepengen bersin terus gak jadi, pasti kamu jadi ilfil berat. Sama kaya si cantik Dian Sastro, kalau gue pernah liat mukanya yang mau bersin terus gak jadi, pasti deh, gue langsung pengen nikahin dia. *istri orang woyyy!!!!

from detik.com

Itu baru satu. Dan pasti kamu pasti ngerasa gak banget dan amit-amit jangan sampe punya sakit kaya yang gue alami. Belum lagi akibat bersin-bersin yang harus gue terima, HIDUNG MAMPET. Sumpah, ini juga gak enak banget. Rasanya kayak ikan keluar dari air. Megap-megap. Seperti oksigen di dunia ini udah mau habis. dan Kondisi ini bakal bikin kamu percaya kalau Tuhan itu ada. Hehe



Hidung Mampet ini biasanya diiringi dengan kekasihnya, INGUS MELER. Dan lagi-lagi, ini juga gak banget deh. Ini ingus yang bening cair (kalau kental putih mah susu kaleng) ga tau sikon, main turun aja. Lagi ngobrol sama orang, menetes tiba-tiba tanpa ada notif (Whatsaap kale pake notif. Walaupun pas make masker wajah pun, tetap bisa diliat sama lawan bicara. *Mas, itu pembalutnya bocor, eh, maskernya basah* So, kamu gak perlu heran, kalau gue ini cowok, tapi selalu bawa tisu kemana-mana. *Buat ngelap makeup ya cyn??. Kampret, buat lap ingus tau...

Paling gak enaknya  adalah kalau ketemu gebetan terus ada ujan-ujan. Kan ekspektasinya tuh dibawah hujan, bisa bercanda bareng, terus bisa dipeluk sambil dibawain payung sama cowok kece bagai ksatria. realitanya Si dia ngarepnya romantis, biar bisa di rangkul supaya hangat, dikasih jaket biar ga kedinginan, lah guenya sibuk bersin-bersin sambil ngelap ingus.
from medindia.net

Belum lagi pas gue mesti pelayanan sama pasien. Ini yang paling gue sebel, kalau udah muncul rhinitis di jam-jam yang harusnya gue tempil prima. Gimana gak, di depan pasien, mesti sibuk sama tisu yang berhamburan, srot-srot yang gak berhenti. Kalaupun gue berusaha gak narik ingus ini buat masuk, yang ada tiba-tiba rasa asin di dalam mulut. Dan si pasien udah muntah darah di depan gue karena eneg liatnya (becanda, sini gak pernah terjadi kok, karena gue pake masker. Jadi paling bener sih rasa asinnya. Hehe). Kadang pun kalau mau narik ingus, gue mesti pura-pura jatuhin pulpen, biar perhatian si pasien teralih dari irama tarikan ingus yang memilukan hati.


Ditambah lagi PUSING dan PENING yang harus gue rasakan setelah bersin-bersin itu. Bersin 5x berturut-turut aja udah bisa bikin kepala rasanya mau pecah gara-gara tekanan di kepala meningkat, apalagi kalau sampai lebih 10 kali. Ditambah mata yang jadi bengkak dan berair karen perih dan efek dari bersin. Jadi kadang orang kalau ngeliat gue, disangka ababil alay yang habis menangis semalam gara-gara ditinggal pergi pacar. Sumpah deh, sembab gue ini gara-gara bersin, lagian gimana mau ditinggal pergi, pacar aja gak punya. *curcol...


from pramareola14.wordpress.com


Sedih memang,harus punya rhinitis seperti ini. tapi ya namanya atopi atau alergi, gak akan bisa disembuhkan. Gak ada obat yang bisa menghilangkan semua gejala ini, kecuali Cuma buat mengurangi. Dan asal tau aja, atopi ini sifatnya menurun. Jadi ntar anak gue juga bisa punya riwayat atopi, entah itu alergi susu sapi, rhinitis yang sama, biduran ataupun asma. *sabar ya nak, ntar kita cari mama yang punya gen kuat biar alerginya gak muncul ya! (atau mungkin sebelum nikah gue perlu Premarital check up. Jadi kalau lagi PDKT, gue bisa liatin semua hasil kesehatan gue sama calon pasangan gue. Haha)

from igancure.com

Kaena tuntutan dari si Rhinitis ini, camilan gue sehari-hari ya, dua obat buat mengurangi gejala-gejala ini. kalau gak RHI*** ya ALD***. Merk sengaja gue tutup. Gue gak boleh promosi. Kan gak boleh nerima gratifikasi. Hehe, ya, Cuma obat-obat itu yang bisa menolong gue, kalau gak mau sampe habis 1 pak tisu, gara-gara hidung ini meler kayak kran air rusak. Dan untungnya gue gak perlu sampai pakai obat steroid. Pasti muka bulat gue udah langsung jadi bulat sempurna kayak bola kalau pake steroid lagi. Haha





Nah, terakhir, buat adek-adek mahasiswi kedokteran atau koas-koas putri yang lagi di blok THT atau stase di THT, bisa ketemu sama gue. Kamu bakal dapet semua tanda rhinitis mulai dari alergic crease alergic shiner, sampai edeme konka. Gue siap jadi probandus.



Salam bahagia dari anak ATOPI !!!



NB: Atopi ini pun sampai jadi nama kelompok gue pas koas dulu. Karena isinya anak-anak loratadine dan deksametasone. Ya, anak-anak yang jarang bikin gatal-gatal dan jarang bikin meradang orang lain disekitarnya. hehe

Dokter Internsip Indonesia, Memaknai Arti Perjuangan Hidup

Isi tulisan ini gak akan sebombastis judulnya diatas. Jadi jangan berharap atau ber-ekspektasi yang muluk-muluk ya.
Dokter by inspiratifnews.com
Berlanjut tentang cerita kehidupan aku (yang gak penting-penting amat buat kamu baca. Hehe), dalam meniti masa depan sebagai seorang dokter harapan mertua bangsa dan negara, kali ini, setelah lulus dokter (LULUS DOKTER sekarang harus ujian kompetensi yang harus dilewatin lagi selain UAN jaman sekolah. btw, internsip itu dokter ya, DOKTER. bukan mahasiswa lagi!) harus menjalani program mulia yang berlandaskan keikhlasan dan kesabaran demi kesehatan masyarakat Indonesia bernama INTERNSIP.



INTERNSIP (INdonesia DokTERNya SIap Pakai. Maksa... Haha) ini harus aku jalanin selama 1 tahun. Yang kebetulan wahananya saat periode pendaftaran aku, gak ada di kampung halaman. Iya, yang artinya aku mesti merantau lagi (lagi, lagi, dan lagi) yang kali ini tujuannya ke daerah di ujung barat provinsi Kalimantan Timur, KUTAI BARAT.

Kalau kamu belum tau dimana letaknya Kutai Barat, aku bakal bantu lewat peta di bawah ini.

Kutai Barat from ceriwis.net


See? Itu dia Kutai Barat. Salah satu Kabupaten di tengah provinsi terkaya Indonesia, Kalimantan Timur, yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Dan tentunya, sangat khas sebagai daerah-daerah (ter)pinggir(k)an dan perbatasan, akses transportasi untuk kesini lumayan menantang dan paling penting, keperluan hidup disini akan 3x lipat dibanding daerah perkotaan. Bagi, rekan sejawat yang mungkin mau pertimbangan wahana internsip, mungkin tulisan aku ini bisa jadi bahan renungan. Wekawekaweka.

Paling utamanya tadi adalah masalah kebutuhan hidup. Kenapa? Karena ini adalah KEBUTUHAN. Makna kebutuhan secara ekonomi sebagai penunjang hidup, tentu jadi yang paling utama harus dipenuhi demi keberlangsungan hidup seorang manusia. Jangan harap kalau disini (Kutai Barat) sama dengan di pulau jawa. Gak bakal nemu warung yang jual nasi pecel harga 5000. Gak bakal nemu duit kembalian recehan 1000 (yah minimal dikasih xonce sih) *Ketawa guling-guling di lantai*

BHD (bantuan Hidup Dasar) yang bisa dipake sebagai pengganti kata gaji, yang digelontorin tiap bulannya --ya kalau rutin sih. Kadang dua bulan sekali-- (2,5 juta dipotong buat pajak yang sebenarnya bisa buat biaya makan 2 hari jadi 2.435.000. Yang setau aku pajak PPh minimal di penghasilan ≥ 3.000.000. Hiksss) gak bakal bisa memenuhin hidup kamu kalau gak pinter ngaturnya.. Makanya, mesti mutar otak buat siasatin itu semua. Disaat seperti inilah  INTERNET (Indomie TeloR korNET) jadi andalan. haha



Disini kamu jadi orang yang sedikit munafik. Gimana sih orang munafik? Orang yang sendirinya gak menepati kata-katanya. Ketika kamu edukasi dengan semangatnya kepada pasien untuk makan teratur 3 kali sehari agar dapat memenuhi asupan gizi harian dengan baik dan tidak terkena dispepsia serta mengurangi makan gorengan supaya gak kena faringitis dan hiperkolesterol, tapi sendirinya, ya gitu.
(kamu gak bakal tahu rasanya sesuatu, kalau belum ngerasain sendiri). Disini memang kita dilatih bagaimana jadi seseorang yang hidup pas-pasan. Merasakan sebenar-benarnya, agar membuat kita lebih perhatian dan peka dengan kondisi kebanyakan masyarakat Indonesia sekarang ini. ini manfaat program internsip, mmbuat jiwa sosial kita lebih peka. Gimana rasanya orang tidak punya uang datang berobat. Jadi sebagai dokter, empati dan simpati kita sudah terpupuk. (cocok nih, buat pejabat-pejabat yang gak peduli sama rakyat, biar di-internsipkan dulu. haha) 

Internsip Jomblo by @CORINAGLOVANI
Disini juga kamu jadi ahli sebagai pengelola keuangan. Tentu dengan predikat dr. di depan nama, sangat malu rasanya untuk mengadahkan tangan lagi ke orang tua (yang belum tentu juga berpenghasilan cukup). Walaupun mereka masih mau untuk memberi, tapi kami tentu malu. Sudah merepotkan mereka dengan pendidikan yang lama dan biaya yang besar. Ditambah keinginanmu yang sebenarnya ingin sudah membahagiakan mereka di umur yang sudah seperempat abad yang hampir 1 setengah taunnya dihabiskan untuk menunggu. (bukan nunggu jodoh, tapi program iship)


Dokter kok ngitung-ngitung duit gini. Doketr matre ya? gak kok, ini Cuma realistis aja. Dengan tuntutan kerja yang segiti sulitnya dan berbanding dengan upah UMR yang ± 2.100.000, sangat bersyukur gak sama nilainya dengan buruh. Masih dapat diatasnya, 2.435.000 ditambah dengan tebaran bonus pahala. Kan untungnya nanti di akhirat. Ini juga ikhtiar kita membantu sesama. Tuhan juga minta umatnya berikhtiar untuk dapat kesehatan.

Tapi diantara itu semua, ada satu kebahagian yang didapatkan dari program ini. Sebuah Keluarga yang baru. Ya bertemu dengan teman sejawat yang baru dari berbagai daerah di seluruh penjuru Indonesia, dengan tujuan yang sama, untuk menyehatkan bangsa Indonesia. Mengenal orang-orang baru yang akan bekerja bersama-sama dalam setahun kedepan. Saling berbagi, saling bantu, saling tolong. Menjadi sahabat-sahabat baru. Teman seperjuangan hidup yang akan tetap terjalin sampai tua nanti.walaupun harus tetap berpisah, namun tetap dalam jiwa. (Isyana-banget bang)


MDG`s 2015 by klikdokter.com

Yang paling penting adalah senyum bahagia dari pasien yang sudah dilayani sepenuh hati, dengan kekurangan-kekurangan yang kami punya. Tentunya secara psikologi, akan tercapai kebahagiann ketika orang tersenyum dan berterima kasih dengan ikhlas setelah dibantu. Agar tercapai sasaran MDGs “INDONESIA SEHAT 2015” (sisa 3 bulan lagi. Semoga gak terulang kaya Indonesia Sehat 2010)

Tahun Baru, Sekedar Kalender Baru ?

Happy New Year, Feliz Ano Nuevo, Bonne Annee, Xinnian Kualie,Saehae Bog Manhi, Selamat Tahun Baru !!!!
Apapun bentuk kalimatnya, artinya tetap sama. Melangkah melalui tahun baru. Banyak orang yang akan (mulai) menulis, merumuskan, merencanakan, berbagai macam hal-hal, resolusi, harapan-harapan yang diinginkan memasuki lembaran tahun terbaru.

Tapi apa emang bener semua resolusi yang sudah dibuat itu sudah diniiatkan dari hati yang paling dalam? Atau sekedar tulisan-tulisan penghibur hati, supaya otak terstimulasi bahwa diri ini sudah menjadi lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Coba deh, bandingkan antara resolusi tahun-tahun sebelumnya yang ditulis dengan yang terbaru. Apakah bobotnya tetap sama? Tidak ada perubahan berarti? Artinya, resolusi yang kamu buat sekedar resolusi. Tulisan yang sekedar tulisan.

Kebanyakan dan Sebagian besar juga, orang akan menulis resolusi di tahun baru dengan harapan :  Menjadi orang yang lebih baik!!

Baik ini maknanya terlalu luas. Datang tepat waktu saat janjian itu baik. Traktir temen itu baik. Kita bukan manusia sempurna untuk menjadi manusia yang baik dalam segala hal. Kita manusia memiliki keterbatasan. Dan menuntut diri untuk menjadi sempurna adalah sebuah kesia-siaan. Sama seperti menuntut untuk memiliki pasangan yang sempurna. Sampai 10.000 tahun juga tak akan pernah bisa.


Lebih baik kita membuat satu resolusi simpel. Meniatkan hati untuk bersungguh-sungguh dalam mencapai sesuatu. Meneguhkan niat. Meneguhkan hati. Ini yang menajdi dasar sesuatu untuk dimulai. Jika hati sudah bersungguh-sungguh, segala sesuatunya bukan menjadi hal yang sulit. Jika hati sudah bertekad besar, gunung sebesar apapun akan bisa dibelah. Bukan hal yang mustahil.


Bukankah lebih baik mengerjakan satu hal dengan tekad bulat sehingga mendapatkan hasil terbaik, dibanding dengan bekerja dengan fokus terbagi-bagi terhadap berbagai macam hal dengan pencapaian yang tidak maksimal dari berbagai hal yang ingin dicapai.

Setelah berbaik dengan hati sendiri, selanjutnya bisa melangkah perlahan untuk berbuat baik dengan orang tua, dengan saudara, dengan keluarga, orang sekitar, dan masyarakat luas.


Semoga Menjadi Pribadi Baru di Tahun Baru